Fokus Pemulihan Fasilitas Ibadah Kemenag Sambut Ramadhan Terdampak Banjir

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:50 WIB
Fokus Pemulihan Fasilitas Ibadah Kemenag Sambut Ramadhan Terdampak Banjir

JAKARTA - Menjelang Ramadhan, Kementerian Agama bergerak cepat memulihkan fasilitas ibadah di wilayah terdampak banjir. 

Upaya ini dilakukan agar masyarakat tetap dapat menunaikan ibadah dengan nyaman dan aman, meskipun bencana baru saja melanda. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam menekankan pemulihan tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga aspek spiritual.

“Penanganan pascabencana harus menyentuh aspek fisik dan spiritual secara simultan. Masjid, KUA, madrasah, dan ruang-ruang keagamaan lainnya perlu segera dipulihkan agar tetap berfungsi sebagai pusat layanan umat, terlebih menjelang Ramadan. Layanan keagamaan tidak boleh terhenti,” ujar Abu Rokhmad, Direktur Jenderal Bimas Islam, di Jakarta, Rabu.

Fokus Kemenag pada fasilitas ibadah terdampak banjir mencakup masjid, meunasah, madrasah, serta KUA. Pemulihan ini juga meliputi penyediaan sarana shalat, Al Quran, mukena, dan sarung agar kegiatan ibadah dan pendidikan keagamaan tetap berjalan.

Di Aceh, Abu Rokhmad meninjau posko kemanusiaan, masjid, madrasah, dan KUA di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, hingga Aceh Utara. Kunjungan ini bertujuan memetakan kebutuhan masyarakat secara langsung dan memastikan bantuan tepat sasaran.

Kolaborasi Lintas Lembaga dalam Pemulihan

Abu menegaskan bahwa Kemenag tidak bekerja sendiri. Pemulihan fasilitas keagamaan dilakukan melalui sinergi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), lembaga amil zakat (LAZ), masyarakat, dan perguruan tinggi. Kolaborasi ini memungkinkan bantuan diberikan cepat dan berkelanjutan.

Intervensi yang dilakukan mencakup penyediaan dapur umum, air bersih, MCK darurat, hingga sarana ibadah. Di Pidie Jaya, misalnya, posko Baznas menyalurkan air bersih dan MCK darurat, serta memulihkan meunasah yang terdampak banjir. Sementara LAZ ASAR mendukung dapur umum yang melayani ratusan kepala keluarga dan kegiatan gotong royong pembersihan masjid dengan alat berat.

Selain bantuan fisik, dukungan psikososial juga diberikan melalui pengajian, trauma healing, dan pembinaan keagamaan. Langkah ini membantu masyarakat tetap kuat dan tenang menghadapi situasi darurat sambil menyambut bulan suci Ramadhan.

Pemulihan Madrasah dan Pendidikan Keagamaan

Abu Rokhmad menekankan pentingnya menjaga kelangsungan pendidikan keagamaan di wilayah terdampak banjir. Di MIN 4 Pidie Jaya, madrasah yang direnovasi oleh LAZ sudah dapat digunakan kembali, termasuk fasilitas madrasah sementara agar kegiatan belajar tidak terhenti.

“Madrasah harus tetap menjadi ruang aman dan harapan bagi anak-anak,” ujarnya. Kegiatan pendidikan keagamaan di madrasah dan KUA menjadi bagian integral dari pemulihan, memastikan generasi muda tetap mendapatkan ilmu dan bimbingan spiritual meski situasi darurat.

Selain itu, kegiatan pengajaran di sekolah-sekolah dan madrasah tetap dijalankan dengan dukungan logistik dan perlengkapan yang memadai. Hal ini penting agar anak-anak tidak kehilangan hak belajar sekaligus menjaga rasa aman dan nyaman dalam proses belajar.

Peran Strategis Masjid dan Meunasah

Masjid dan meunasah menjadi simpul strategis dalam pemulihan pascabencana. Selain sebagai tempat ibadah, fasilitas ini difungsikan sebagai pusat layanan sosial dan psikososial bagi masyarakat terdampak.

Di Kabupaten Bireuen, Kemenag meninjau dapur umum yang melayani puluhan hingga ratusan keluarga, menyalurkan beras, serta menyediakan air bersih melalui sumur bor. Masjid dan meunasah juga berperan sebagai titik koordinasi relawan dan lembaga zakat untuk penanganan cepat kebutuhan masyarakat.

Selain fisik, fasilitas pendukung seperti tandon air, filter air minum, dan perangkat suara disiapkan untuk mendukung aktivitas ibadah. Langkah ini memastikan masjid dan meunasah dapat berfungsi optimal saat Ramadhan tiba.

KUA sebagai Garda Terdepan Layanan Keagamaan

Kepala KUA menjadi fokus utama Kemenag dalam memastikan layanan keagamaan tetap berjalan. Layanan yang dijaga meliputi pencatatan nikah, konsultasi keagamaan, zakat, wakaf, hingga mediasi sosial.

“KUA adalah garda terdepan layanan keagamaan di tingkat akar rumput, terutama saat masyarakat menghadapi krisis,” kata Abu Rokhmad. Keberadaan KUA yang berfungsi optimal menjadi kunci agar masyarakat tetap mendapatkan layanan spiritual dan administratif selama bencana.

Pendekatan ini menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya tentang memperbaiki bangunan, tetapi juga menjaga kontinuitas layanan keagamaan. Dengan demikian, masyarakat tetap dapat menjalankan ibadah dan kegiatan sosial dengan aman dan nyaman.

Pemulihan Layanan Keagamaan untuk Ramadhan Aman

Kemenag memastikan bahwa fasilitas ibadah dan pendidikan keagamaan di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara siap menyambut Ramadhan. Dukungan dari Baznas, LAZ, relawan, dan masyarakat menjadi pilar keberhasilan pemulihan.

Kolaborasi lintas lembaga ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga hak beribadah masyarakat, sekaligus mendukung pemulihan psikososial pascabencana. Layanan keagamaan, pendidikan, dan sosial dijalankan secara simultan agar masyarakat dapat menyambut bulan suci dengan tenang dan aman.

Dengan langkah-langkah ini, Kemenag menempatkan fasilitas ibadah sebagai pusat layanan umat yang mampu memberikan dampak positif, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga sosial dan ekonomi di wilayah terdampak bencana.

Terkini